Mendhem Duren
February 9th, 2010SiBuYa Kerbau Paling Terkenal di Dunia
February 8th, 2010Belajar Fotografi
February 8th, 2010Ada Drum Band, Reog dan Atraksi Panahan
February 8th, 2010Pagelaran Reog Meriahkan Peresmian Mapolsek Gayam
February 8th, 2010Reog Ponorogo Antarkan Team SMAdaBo Raih Juara I Pada English Presentation Contest
February 8th, 2010Wayang Yes, Kolaborasi Wayang Tengul Bojonegoro-Reog
February 8th, 2010Lokasi Ekowisata Mangrove Surabaya
February 7th, 2010Multikulturalisme Kita
February 6th, 2010Diakui atau tidak – pun disadari atau tidak, menjadi warga negara Indonesia seharusnya merupakan keistimewaan terbesar yang kita miliki. Sebagai warga negara Indonesia, kita menerima warisan nusantara paling utama; multikulturalisme. Kita semua hidup bersama dengan berlandaskan warisan tersebut, perpaduan antara budaya kesukuan dan budaya keagamaan.
Budaya suku Madura dan agama Islam -misalnya, dapat menciptakan harmoni yang hidup di tengah-tengah pemilik identitasnya (Madura-Islam). Begitu juga dengan budaya suku Bali dan agama Hindu -misalnya, atau suku Papua dan agama Kristen -juga misalnya. Bahkan, harmoni itu juga terbentuk di tengah-tengah budaya Sasak, Dayak, dan Samin (yang lebih suka mengakui berbudaya Sikep) dengan kearifan lokalnya.
Itu tadi persentuhan budaya “internal”. “Eksternal”nya; ketika pemilik identitas Madura-Islam tinggal bersama pemilik identitas Tengger-Hindu di pegunungan Bromo, juga ketika pemerintahan desa-kecamatan-kabupaten di Blora menghargai dan membiarkan ajaran Samin terus dilestarikan. Bahkan sebenarnya, ketika Madura-Islam carok dengan Dayak beberapa tahun lalu pun merupakan persentuhan antar budaya, meski cenderung negatif.
Jadi, pada dasarnya, kita sebaiknya (untuk tidak memaksakan kata seharusnya) mengakui dan menyadari bahwa warga negara Indonesia adalah manusia yang hidup di tengah multikulturalisme. Oleh karena itu, segala bentuk perbedaan budaya yang kemudian muncul ketika bertemu dengan budaya lain sebaiknya ditoleransi dan diapresiasi.
Lebih luas lagi, multikulturalisme pun bukanlah hal yang aneh bagi manusia di manapun ia berada. Tidak ada suatu komunitas yang melulu hidup tanpa sedikitpun muncul persentuhan antar budaya; baik budaya kesukuan maupun budaya keagamaan. (03/02/10)
Dawam Multazam | SMJ Ushuluddin STAIN Ponorogo
STOP PRESS!
Tulisan ini semacam paid review yang Saya tulis untuk persyaratan mengikuti kegiatan Belajar Bersama yang diselenggarakan oleh Yayasan LKIS Yogyakarta (11-17 Pebruari 2010). Silakan dikomentari, dan harapannya, semoga bermanfaat.
Hem, tanggal 8-15 Pebruari tuh sebenernya masih UAS di STAIN Ponorogo. Izin ah, daripada tahun depan musti mengulang….