Mendhem Duren

February 9th, 2010
Ya sekarang ini adalah musim duren dan kalau kalian menyusuri jalan gajah mada ponorogo pasti akan terdapat bau menyengat aroma buah durian. Jujur saya belum pernah beli durian di situ karena berbagai alasan. Tapi kemarin itu saya maen ke ruah temen yang berdomisi di kulon Telaga Ngebel. Ituh tempat untuk ambalwarsa koareyog.com yang tempatnya dingin. [...]

SiBuYa Kerbau Paling Terkenal di Dunia

February 8th, 2010
Anda pasti pernah mendengar SiBuYa. Atau bahkan sudah bosan mendengarnya? Belakangan ini SiBuYa ramai dibicarakan media-media massa dan bahkan menjadi headline pemberitaan. Hal tersebut tidak terlepas dari jasa presiden SBY yang turut membantu “mempromosikan” SiBuYa melalui curhatnya. Ya, SiBuYa bukanlah nama seseorang, melainkan nama kerbau yang pernah dibawa demonstran dalam rangka demonstrasi 100 hari pemerintahan SBY [...]

Belajar Fotografi

February 8th, 2010
Ketika Tim Aku Konsumen Hijau melakukan kegiatan sulam mangrove di Bozem Wonorejo kemarin kami melihat beberapa kelompok orang yang terlihat seperti sedang belajar fotografi. Seorang model menjadi objek beberapa calon fotografer yang dibimbing oleh fotografer betulan. Saya tidak tahu apa yang [...]

Ada Drum Band, Reog dan Atraksi Panahan

February 8th, 2010

Pagelaran Reog Meriahkan Peresmian Mapolsek Gayam

February 8th, 2010

Reog Ponorogo Antarkan Team SMAdaBo Raih Juara I Pada English Presentation Contest

February 8th, 2010

Wayang Yes, Kolaborasi Wayang Tengul Bojonegoro-Reog

February 8th, 2010

Lokasi Ekowisata Mangrove Surabaya

February 7th, 2010
Ekowisata Mangrove terletak di Pantai Timur Surabaya, tepatnya di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Di sana kita bisa menikmati suasana alam berupa hutan mangrove yang ditanam di sekitar muara sungai. Untuk menuju lokasi hutan mangrove kita harus naik perahu dengan tarif [...]

Multikulturalisme Kita

February 6th, 2010

Diakui atau tidak – pun disadari atau tidak, menjadi warga negara Indonesia seharusnya merupakan keistimewaan terbesar yang kita miliki. Sebagai warga negara Indonesia, kita menerima warisan nusantara paling utama; multikulturalisme. Kita semua hidup bersama dengan berlandaskan warisan tersebut, perpaduan antara budaya kesukuan dan budaya keagamaan.

Budaya suku Madura dan agama Islam -misalnya, dapat menciptakan harmoni yang hidup di tengah-tengah pemilik identitasnya (Madura-Islam). Begitu juga dengan budaya suku Bali dan agama Hindu -misalnya, atau suku Papua dan agama Kristen -juga misalnya. Bahkan, harmoni itu juga terbentuk di tengah-tengah budaya Sasak, Dayak, dan Samin (yang lebih suka mengakui berbudaya Sikep) dengan kearifan lokalnya.

Itu tadi persentuhan budaya “internal”. “Eksternal”nya; ketika pemilik identitas Madura-Islam tinggal bersama pemilik identitas Tengger-Hindu di pegunungan Bromo, juga ketika pemerintahan desa-kecamatan-kabupaten di Blora menghargai dan membiarkan ajaran Samin terus dilestarikan. Bahkan sebenarnya, ketika Madura-Islam carok dengan Dayak beberapa tahun lalu pun merupakan persentuhan antar budaya, meski cenderung negatif.

Jadi, pada dasarnya, kita sebaiknya (untuk tidak memaksakan kata seharusnya) mengakui dan menyadari bahwa warga negara Indonesia adalah manusia yang hidup di tengah multikulturalisme. Oleh karena itu, segala bentuk perbedaan budaya yang kemudian muncul ketika bertemu dengan budaya lain sebaiknya ditoleransi dan diapresiasi.

Lebih luas lagi, multikulturalisme pun bukanlah hal yang aneh bagi manusia di manapun ia berada. Tidak ada suatu komunitas yang melulu hidup tanpa sedikitpun muncul persentuhan antar budaya; baik budaya kesukuan maupun budaya keagamaan. (03/02/10)

Dawam Multazam | SMJ Ushuluddin STAIN Ponorogo

STOP PRESS!

Tulisan ini semacam paid review yang Saya tulis untuk persyaratan mengikuti kegiatan Belajar Bersama yang diselenggarakan oleh Yayasan LKIS Yogyakarta (11-17 Pebruari 2010). Silakan dikomentari, dan harapannya, semoga bermanfaat.

Hem, tanggal 8-15 Pebruari tuh sebenernya masih UAS di STAIN Ponorogo. Izin ah, daripada tahun depan musti mengulang….


Makan sambil ngadem di ngedam

February 6th, 2010
A